Blog Teh Deska
Selasa, 16 Agustus 2016
Sarjana Ibu Rumah Tangga
Apa yang teman-teman pikirkan ketika mendengar kata sarjana ibu rumah tangga?
Adakah di negara kita sekolah formal untuk mempersiapkan para calon ibu? Sebuah pekerjaan yang sangat mulia dan membutuhkan skill yang baik. Bagaimana tidak, seorang ibu rumah tangga dituntut untuk bisa mengatur segala urusan rumah tangga yang seabrek. Waktu bekerjanya pun ful! time, bahkan rasanya 24 jam tidaklah cukup untuknya.
Namun, jangan berpikir bahwa pekerjaan ini sangat berat, karena yakin gajinya pun sangat luar biasa. Ya, surga yang begitu indah adalah hadiah terbaik bagi seorang ibu yang menjalankan perannya dengan baik.
Ketika menjadi seorang istri yang taat dan menjadi seorang ibu yang penuh kesungguhan, maka ketika itu pula pintu-pintu surga terbuka untuknya. Setiap kelelahan yang ia rasakan selama menja!ani perannya di dunia akan tergantikan dengan kenikmatan yang akan ia dapatkan di surga kelak. Meskipun begitu, baginya kenikmatan itu ia rasakan pula di dunia. Ketika melihat suaminya bahagia, anak-anaknya tersenyum ceria, dan keluarganyan harmonis penuh cinta, maka seluruh kelelahannya selama seharian akan terhapus seketika dan berganti dengan kebahagiaan di hati.
Sungguh, hanya seorang ibulah yang akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa itu. Segala pekerjaan yang ia kerjakan di rumah takkan pernah menjadi beban untuknya, sebab setiap yang ia lakukan diiringi pula dengan niat yang ikhlas karena Allah. Sehingga, setiap aktivitas yang dilakukan dengan keikhlasan akan bernilai ibadah.
Ya, bagi seorang ibu, yang ia kerjakan di rumah adalah semata-mata ibadah pada Allah swt. Di samping ibadah shalat, puasa, membaca Alquran, dan ibadah lainnya yang merupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Maka, sangatlah pantas ia mendapatkan gelar Sarjana Ibu Rumah Tangga. Namun, meskipun gelar itu tak disematkan padanya, ia tetap memiliki derajat yang begitu tinggi dari Allah swt.
Karena itu, berbahagialah para ibu, surga telah menantimu.
Minggu, 08 Mei 2016
HEMODIALISA
HEMODIALISA
Karya: Deska Pratiwi
Di Ruangan ini, kulihat sebuah kepasrahan. Orang-orang yang
tak berdaya, berbaring diselimuti kain loreng hitam putih. Tubuh mereka lemah,
menanti kepastian dari Sang Maha Hidup. Ruangan bercat putih ini hanya dapat
mengundang beberapa orang saja untuk menikmati suguhannya. Berkali-kali
terdengar bunyi mesin yang berirama, seolah menghilangkan beban mereka
menampung darah-darah kotor para pasien. Namun, bagi orang-orang yang tak
berdaya itu, cukuplah untuk menyambung hidup mereka melalui jarum-jarum yang
terpasang di bagian lengan dan kaki yang terhubung dengan mesin itu.
Dinginnya AC dan dua buah TV cukup untuk menghilangkan
penat. Aku duduk di samping sebuah ranjang berroda. Di atasnya tertidur pulas
seorang wanita paruh baya. Meski perih menahan sakit karena jarum yang menciumi
tubuhnya, tapi kulihat sebuah kepasrahan terpancar dari wajahnya yang mulai
berkerut. Kerutan di dahinya itu cukup menjadi saksi ketegaran hidup selama
empat puluh tiga tahun. Namun, masih tersisa sebuah senyuman yang menjadi
syarat untukku tetap tabah dan sabar merawatnya, menjaganya sebagaimana ia
menjagaku sejak kecil…
* * *
Bulan belum
sempurna bentuknya ketika kudatangi ia dengan membawa secangkir susu yang akan
kunikmati di bawah cahaya redupnya. Namun kusadari kasih ibu ternyata lebih
lembut dari cahaya rembulan, lebih indah dari kerlip bintang, dan lebih
bersinar dari cahaya matahari. Malam ini kunikmati dengan mengenang sebuah
kisah indah antara aku dengan ibu.
Hari-hari yang kulalui bersamanya bagai pelangi yang setia
menemani alur kehidupanku bersamanya dan mewarnai langkahku. Namun, sekali lagi
kukatakan, kasih ibu lebih dari sekedar warna pelangi. Ia yang tegar, pantang
menyerah dan tabah, meski harus menopang hidup kelima anaknya sendirian
Masih kuingat, enam tahun yang lalu, ketika sosok yang
sangat dicintainya menghembuskan nafas terakhir. Betapa banyak air mata yang
terkuras karenanya.
Tapi kuyakin, kau tetap tegar, Bu…
Masih terngiang di telingaku, saat
kau berucap pada kami, buah hatimu, “Nak, meskipun ayah telah tiada, tapi
kalian masih punya ibu yang akan menemani hari-hari kalian setelah ini. Doakan
ibu ya, Nak…”
Bu… pantas saja dulu saat aku akan melanjutkan sekolah ke
jenjang yang lebih tinggi, kau menahanku untuk tetap di sampingmu.
“Tidak usah kuliah jauh-jauh Teh, di sini juga masih banyak
Perguruan Tinggi yang bagus, ibu yakin kau lebih baik jika tetap tinggal di
sini bersama ibu!” pintamu waktu itu.
Semula aku merasa kecewa. Teman-temanku banyak yang kuliah
ke luar kota, menggapai mimpi mereka. Sementara aku, masih di sini, kota yang
sama sejak aku dilahirkan. Aku pun berusaha penuhi pintamu meski dengan tanda
tanya besar tentang alasanmu. Namun ternyata, sejuta tanyaku terjawab ketika di
akhir semester pertama aku mendapat Indeks Prestasi tertinggi di jurusan. Nilai
sempurna bagi mahasiswa. Kini aku sadar, bahwa inilah rencana terindah dari
Sang Maha Sempurna untukku.
Masa-masa indah telah aku lalui bersama ibu. Merangkai
mimpi bersama.
“Kalau nanti sudah ada yang membawamu pergi, jangan lupakan
ibu ya Nak, ibu doakan semoga kau mendapat jodoh yang baik, soleh, dan dapat
menyayangimu serta ibumu ini sepenuh hati…” ucapmu waktu itu. Aku hanya mampu
tersenyum dan berdoa dalam diam. “Amiin, kabulkan doa ibuku Ya Rabb, hanya
Engkaulah Desainer kehidupan terbaik!”
Seperti sebuah roda yang berputar. Hidup tak selamanya
indah. Ada mendung di balik hangatnya sinar mentari. Karena langit tak selalu
cerah. Masa-masa yang memeras air mata datang, ketika aku merasakan bahagia
bersamamu. Mungkin, inilah ujian cinta dari-Nya. Ketika kami terpaksa harus
menjual rumah untuk membiayai sekolah dan kebutuhan hidup lainnya. Dari sini
aku belajar bahwa hidup membutuhkan sebuah keputusan. Ketika kondisi keuangan
yang semakin surut dari waktu ke waktu, akhirnya dengan keputusan yang bulat,
kami pergi meninggalkan rumah peninggalan almarhum ayah dan menempati rumah
yang sederhana dibandingkan rumah itu.
Inilah kehidupan. Ada hitam ada putih. Ada bahagia ada
sedih. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani masa-masa pahit
menjadi sesuatu yang terasa manis.
Kondisi keluargaku memang menuntut untuk berkorban dan
berjuang lebih keras. Sejak ayah meninggal, kami hanya hidup dari uang
pensiunan ayah yang tak seberapa nilainya. Setidaknya cukup untuk memenuhi
kehidupan sehari-hari, meski kadang harus meminjam dari yang lain untuk
memenuhi kekurangan.
Ibu tak sanggup bekerja karena kondisi kesehatannya yang
semakin lama semakin menurun. Sementara semua anak-anaknya masih dalam bangku
pendidikan. Aku, kakak, dan saudara perempuanku kuliah, adik laki-laki SMP dan
si bungsu masih SD. Tentu bukan biaya yang ringan untuk kebutuhan sekolah kami.
“Sekolahlah setinggi mungkin anak-anakku, jadikan hidupmu
lebih baik dari sekarang!” harapmu.
“Iya Bu, tapi doakan kita juga ya…” jawabku. Sebenarnya aku
yakin, tak usah dipinta pun, pasti kau doakan kami ya Bu…
Kami tetap menjalani hidup apa adanya dan membuat ada
dengan berusaha. Syukur tiada henti ketika beberapa tahun selanjutnya kakak
dapat bekerja sambil kuliah untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Aku pun tak
mau berdiam diri. Dengan kemampuanku dalam hal menulis, akhirnya aku mulai
bekerja di bidang jurnalistik meski hanya cukup untuk memenuhi kebutuhanku
sendiri, tapi dapat mengurangi beban kakak dan ibu. Kami bertekad, walau harus
membanting tulang, tapi pendidikan menjadi yang utama.
“Berjuanglah untuk meraih mimpi kalian!” ucapan ibu masih
terngiang hingga kini.
* * *
Tanda-tanda itu mulai terlihat.
Ketika kau mulai merasakan sakit
dalam tubuhmu, kakak ingin membawamu ke dokter, namun kau menolak. Kutahu, dana
telah menghentikan niatmu memeriksakan diri. Sampai sakitmu bertambah
parah, akhirnya kakak memaksakan meminjam uang untuk biaya pemeriksaanmu.
Dengan memakai motor yang belum juga terlunasi, kakak
membawa ibu pergi ke dokter yang jaraknya tak jauh dari rumah. Dengan khawatir,
aku menunggumu pulang.
“Rabb, ampuni hamba-Mu ini yang tak bisa menjalankan
amanah-Mu menjadi anak yang berbakti pada orang tua, kusadari betapa lemah diri
ini di hadap-Mu. Karena itu kumohon berilah pondasi kekuatan-Mu agar dapat
menopang diriku.”
Kabar itu membuatku merasa bersalah padamu, Bu. Dokter
mengatakan bahwa kau darah tinggi bahkan hingga tekanan darahmu mencapai di
atas 200. Kakak bilang, “Dokter merasa aneh, padahal tekanan darah Ibu sangat
tinggi tapi masih terlihat kuat, bahkan dokter khawatir kalau Ibu pulang naik
motor!” Aku bertekad, akan kujaga engkau dengan sekuat tenaga, tentu dengan
kekuatan-Nya.
Beberapa bulan telah terlewati dan sampailah aku pada bulan
kemuliaan. Bulan Ramadan tahun ini adalah bulan kebahagiaan serta kesedihanku.
Bahagia karena Allah masih memberiku umur untuk merasakan nikmatnya dan
kesedihan karena kondisi kesehatan ibu sangat menurun.
Di penghujung Ramadan, aku sekeluarga pergi ke tempat
kelahiranku dengan niat ingin berlebaran di sana. Sebuah kampung kecil yang
penuh dengan kenangan.
Di sanalah semua bermula. Sakit yang ibu derita mulai menjalar
ke seluruh tubuh hingga kau tak sadarkan diri. Jiwamu terlihat kuat tapi
pikiranmu tak ada di sana. Orang-orang kampung mengira kau dirasuki oleh ruh
lain hingga didatangkanlah ‘orang pintar’ yang tersohor di kampung. Semula aku
tak setuju dengan solusi yang mereka berikan. Hanya, kultur itu terlalu
kuat.
Kupandangi ‘orang pintar’ itu dari ujung rambut hingga
kaki. Penampilannya aneh! Dia mengobati Ibu dengan cara di luar akal pikiranku.
Dan hasilnya bisa dipastikan. Tidak ada!
Akhirnya kupaksakan membawa Ibu ke rumah sakit karena
kondisi yang semakin parah. Meski kutahu tak ada biaya untuknya. Tapi aku tetap
yakin pada pertolongan Allah.
“Ibu menderita gagal ginjal kronis!” vonis dokter setelah
memeriksa Ibu. Semula aku tak percaya, tapi dokter memberikan hasil pemeriksaan
dari laboratorium.
“Apakah Ibu masih bisa tertolong, Dok?” tanyaku khawatir.
Aku pernah mendengar dari salah seorang dosen di kampus kesehatan adikku bahwa
penyakit gagal ginjal itu seperti lagu ‘menghitung hari’, tapi segera kubuang
jauh-jauh pikiran itu setelah dokter mengatakan bahwa ibu masih bisa tertolong.
“Iya Nak, organ dalam tubuh ibumu tidak dapat mencerna
makanan yang masuk karena ginjalnya sudah tidak berfungsi. Untuk membantunya,
dia harus melakukan cuci darah atau hemodialisa,” jelas dokter.
“Sampai kapan ibu harus cuci darah?” tanyaku segera.
“Seumur hidup.” Jawabnya.
Deg! Tak kuasa aku mendengarnya. Untuk menopang hidupnya,
dia harus merasakan sakit ketika alat-alat medis itu menggigit tubuhnya.
‘Kuatkan hamba ya Rabb...berikan nikmat sehatmu untuk ibuku
tercinta....’
***
Ruangan ini masih seperti semula. Bau obat-obatan yang
mengganggu hidung, suara mesin pencuci darah yang menusuk telinga dan dinginnya
AC yang membuat suasana hati ini semakin dingin.
Lima jam sudah ibu terbaring tak berdaya. Lelah terbayang
di wajahnya. Namun, aku takkan pernah lelah menunggu demi melihat kau sehat,
Bu...
Dua lelaki dan seorang wanita muda berpakaian putih itu
menghampiri tempat tidur ibu yang aku duduk dengan manis di sampingnya.
“Neng, sekarang bisa bawa Ibu pulang,” ucap salah seorang
dari mereka dengan ramah. Senyum pun tergambar dari wajah Ibu.
***
Hari-hari berlalu dengan harapan yang tiada pernah putus
dari-Nya. Bulan-bulan terlewati seolah memotong usia manusia. Sampai di bulan
yang kelabu, kusaksikan langit tak seindah biasa, kicauan burung di atas rumah
pun tak seceria di pagi hari biasanya.
Aku berjalan di antara gundukan pasir yang membisu.
Langkah-langkah terayun seolah tak ingin membuat jejak. Di antara gundukan
pasir itu, aku bersimpuh di samping gundukan tanah merah yang masih segar
dengan hiasan bunga kamboja yang terlihat indah.
“Ayah, bagaimana kabarmu di sana? Aku yakin kau pasti
bahagia karena engkau selalu membuat orang-orang di sekitarmu bahagia. Bidadari
yang kau sayang kini sudah ada di sampingmu kembali. Suatu saat nanti, kita
kumpul-kumpul lagi di rumah baru kita di surga ya...”
Kupandangi sebuah gundukan tanah di samping makam ayah.
Lama kutatap tanah merah itu. Sendu.
”Rasanya baru kemarin aku berbicara denganmu, Bu… Bercerita
tentang masa kecilku yang sering membuatmu tertawa. Kini, aku merindukan
kebersamaan itu lagi, Bu.....”
Bagai dedaunan yang ada di tempat pemakaman itu. Manusia
lahir dengan penciptaan sempurna dari Yang Maha Sempurna, lalu ia akan melewati
kehidupan ini mengikuti alur kehidupan yang telah ditetapkan-Nya. Kadang ada
angin yang menyapa. Namun, di saatnya nanti ia akan rapuh dan gugur. Hingga ia
kembali pada tempat asalnya. Di atas tanah itu kita berakhir dan siap menuju
tempat yang lebih baik di surga-Nya...Amiin.
Kau wanita lembut
Kelembutanmu buatku luluh
Dekap rengkuh hati dan asaku
Hingga kurindu slalu dekatmu
Kau wanita tegar
Berpijak di tanah yang melepuh
Ombak dan karang di lautan
Tak mampu goyahkan jiwamu
Kau wanita tangguh
Kilau dunia tak surutkan langkahmu
Berjuang demi orang-orang tercinta
Walau kadang tak pedulikan dirimu
Kau wanita mulia
Terkisah dalam Alquran
Tercatat dalam sejarah
Kemuliaan dan ketulusanmu buat indah dunia
Karena kau wanita…
Kaulah IBU…
Langganan:
Komentar (Atom)